Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 16
Februari 2014)
KALAU itu
batu, tentunya batu-batu itu adalah emas. Jika itu kerikil, tentu
kerikil-kerikil itu intan. Semuanya itu menyatu, membentuk sebuah bukit yang
bercahaya, bersinar terang, berkilau memukau, pada malam tertentu di bulan
tertentu.
Aku harus menyaksikannya dengan mata kepalaku
sendiri.
Kisah itu memang kudengar dari banyak orang.
Sepotong demi sepotong, cerita tentang bukit yang bercahaya itu menyambangiku;
seperti kehadiran seorang sahabat yang sudah lama tak jumpa. Ada yang muncul
ketika di perjalanan pulang kantor, ada yang hadir ketika aku harus keluar kota
untuk urusan kantor. Ada yang ”numpang lewat” di Facebook. Dan semuanya,
seperti puzzle, kepingan-kepingan itu menuntut untuk disatukan. Anehnya, aku
tak kuasa menolak atau mengabaikannya.
”Kata nenek saya, dulu, bukit itu adalah
serpihan Taman Sriwedari, ketika dipindahkan oleh Sokrasana,” ucap Mas Tri
Luwih, seorang dalang. Aku kagum.
”Tapi, itu miturut, simbah saya, lho, Mas. Jadi,
ketika itu, kan, Sokrasana dimintai tolong kakaknya untuk memindahkan taman
milik Batara Wisnu itu, sebagai persyaratan… ah, sampean tahu, kan, kisahnya,
he-he-he. Nah, ketika dibawa terbang, ada segenggam tanah yang jatuh.”
”Jadi, cuilan Taman Sriwedari itu menjelma Bukit
Cahaya itu?”
”Miturut dongeng, begitu…,” jawab Mas Tri Luwih
kalem.
Meskipun aku tahu bahwa itu hanyalah dongeng,
tapi yang sampai pada hatiku adalah sebuah keindahan. Sebuah kesejukan yang
tulus dan murni, lewat penuturan Mas Tri Luwih, teman sesama penggemar kopi
pahit.
Lain lagi potongan kisah yang datang dari Gus
Rony, juga teman sesama penggemar kopi pahit. Menurutnya, dari yang dia dengar,
tidak setiap saat bukit itu memendarkan cahaya. ”Hanya pada malam ketujuh, di
bulan ketujuh.”
”Jadi, hanya setahun sekali?”
”Ya.”
”Kenapa?”
”Embuh… he-he-he…. Saya juga tidak tahu, dan
tidak mau tanya-tanya.”
”Sampean tahu dari mana?”
”Lho, kan, saya bilang tadi, kata si empunya
cerita… haha-ha-ha-ha-ha….” kemudian dia menyeruput kopi hitamnya yang tanpa
gula itu.
Jujur saja, kian banyak potongan-potongan kisah
yang seperti memaksakan diri hadir dalam keseharianku, kian kuat keinginanku
untuk menyaksikan bukit cahaya itu. Dan kian kuat keinginanku untuk menyaksikan
sendiri bukit cahaya itu, kian kuat pula ejekan menerjangku.
Ada yang mengatakan bahwa seharusnya aku masuk
jurusan ilmu klenik saja dan bukan masuk ekonomi. Ada yang meledek bahwa aku
lebih percaya pada yang maya ketimbang yang nyata, dan entah apa lagi. ”Emang
kamu itu si Milo? Itu, yang di film Journey to the Bottom of the World?
he-he-he…. Tuh, lihat di jalanan buruh semua demo, minta kenaikan UMR. Tuh, ada
gubernur cantik dandannya satu miliar. Itu kenyataan. Gak usah sok mimpi mau
lihat bukit bercahaya segala.” Ada saja yang gusar karena kegilaanku dan
mengucap semau-maunya tentang apa yang harus disebut kenyataan dan bukan.
Aku diam saja. Ya, aku sendiri heran mengapa
keinginan untuk melihat sendiri bukit cahaya itu begitu kuat; sementara
diam-diam aku sendiri tahu persis bahwa itu hanyalah dongeng. Ada semacam
kekuatan yang saling menarik, yang tengah terjadi pada diriku.
Kuumumkan bahwa tekadku bulat sudah. Aku
mengajukan cuti khusus nanti di awal bulan Juli. Bosku, yang selama ini hanya
tersenyum, kali ini menatapku dalam-dalam.
”Maaf, sudah tahu di mana persisnya bukit
cahayamu itu,” ucapnya dengan nada serius.
”Tahu, Pak, di Dusun Galihkangkung.”
Dia mengernyitkan dahi, mempertajam
pandangannya, mencoba mencari di mana si lawan bicara berada saat itu.
”Ya, itu nama yang aneh. Dan saya yakin belum
terpetakan,” ujarku dengan suara agak tersekat.
Bosku kemudian tertawa terbahak-bahak. Tak lama
dia berkata dengan lantang, memberi tahu seisi ruangan bahwa ada sebuah tempat
namanya Galihkangkung dan itu belum terpetakan di Indonesia. Kau tentu bisa
membayangkan sendiri apa yang terjadi di ruangan besar itu.
Aku diam saja. Percuma saja jika kukatakan bahwa
koordinat satelit tak akan bisa meraba di mana tempat-tempat yang disebut aneh
itu berada. Mereka tak akan percaya pada kemustahilan teknologi yang konon
canggih itu. Percuma saja aku katakan bahwa apa yang kita percayai sebagai
logika, tak lebih daripada sebatok kepala kita sendiri; sementara begitu banyak
hal di luar sana, yang jauh, jauh lebih besar daripada batok kepala kita. Percuma
saja, toh, mereka memang tidak pernah berusaha untuk memercayai.
Mereka sudah tak percaya pada kekuatan
keindahan. Mereka jauh lebih percaya pada perhitungan logika—entah, apa
sebetulnya pemahaman mereka tentang logika. Mereka bahkan tak bisa lagi glenikan,
ngobrolkosong, senda gurau, atau canda antarsesama manusia, lantaran jauh dalam
diri mereka hanya ada rasa curiga dan syak wasangka. Semua unsur kehidupan
didasarkan pada untung rugi secara sempit. Mereka lebih percaya pada skala
penjualan. Mereka bukan lagi pengikut para nabi, meskipun dari mulut mereka
membusa ayat-ayat Tuhan; mereka menyembah uang yang menurut mereka lebih nyata
daripada Tuhan.
Maaf, mungkin aku melantur. Tapi, mungkin, itu
semua yang membuatku diam-diam membulatkan tekad mencari dan melihat sendiri
bukit cahaya itu. Sesuatu yang memberiku kekuatan untuk mencari sumber
ketenangan hidup. Ya, barangkali memang itu.
Telah kususuri jalanku, dan aku berada di
Galihkangkung. Suasana begitu lengang. Angin benar-benar seperti senyuman malu-malu
seorang gadis yang kau jumpai di jalan. Jalanan kecil, tanah hitam padat,
bersih. Orang-orang yang berjalan menggiring kerbau, mungkin ke pasar, mungkin
ke sawah, bisa dengan mudah kau jumpai. Mereka tidak memandangku sebagai orang
aneh, meskipun bagaimana aku bisa sampai di tempat ini kurasakan sebagai
sesuatu yang aneh.
Entah bagaimana, Gusti Purusa—dia memang bernama
Gusti—memberi tahu bahwa ada salah satu kerabatnya di Galihkangkung. Mengapa
bisa Gusti Purusa mau memberi tahu, aku juga bingung, karena sebetulnya aku
tidak kenal langsung dengan dia. Ah, sudahlah, aku hanya berprinsip: ada
kemauan, ada jalan—seganjil apa pun jalan itu; dan di rumah kerabat Gusti
Purusa inilah aku tinggal di Galihkangkung.
”Nanti malam, Mas. Menjelang jam sebelas, kita
jalan sampai ke tepian teluk,” ujar Pak Har, si tuan rumah.
”Oh, jadi bukit itu di laut?”
”Ya. Di teluk itu ada beberapa pulau kecil
berbukit-bukit, nah salah satunya itulah yang nanti akan kita lihat bercahaya.”
”Pak Har pernah menyaksikan sendiri?”
”Ha-ha-ha… semua yang ada di sini pernah. Bukan
hal baru. Kami bahkan sering ke pulau itu, atau mereka, orang-orang itu juga
kemari beli kebutuhan kecil. Mereka, ya, seperti kita manusia biasa. Itu
sebabnya saya agak heran, kok, Mas tertarik. Lha yang aneh apanya?
Ha-ha-ha-ha.”
Sekali lagi aku dibantah oleh keluguan. ”Maksud
saya,” ucapku buru-buru, ”mengapa bukit itu bercahaya? Dan hanya pada saat
tertentu saja?”
”Ah, Mas ini… ha-ha-ha-ha-ha…. Ya, memang
begitu. Nanti kalau bercahaya terus-menerus dikira sumur bor minyak?
Haha-ha-ha-ha…. Ndak ada yang aneh, Mas, biasa saja. Malah, kalau setahun
sekali, bagus, karena ada yang ditunggu-tunggu, ada yang akan ditonton dari
pantai. Memang indah, Mas. Tapi, ya… biasa sajalah, bukan aneh, kok.”
Mungkin saat itu akulah manusia paling bodoh di
dunia ini. Dibanting dan diempaskan kenyataan yang melingkupiku saat ini, aku
tak bisa lain, kecuali diam.
”Apa, besok mau menyeberang ke sana? Saya
antarkan. Tapi, ya, jangan kecewa, wong sama saja seperti di sini,” tambah Pak
Har. Aku tersenyum.
Aku menyaksikan kelam di kejauhan. Debur ombak
dan angin asin menyapaku dari laut di Teluk Galihkangkung. Di gubuk-gubuk kecil
ini kami duduk berdua, ditemani kopi dan rokok. Di sekitarku ada juga
tempat-tempat sebagaimana yang kami duduki, dan beberapa orang juga tengah
menunggu sesuatu. Sebagaimana di pantai-pantai yang lain, suasana yang
kurasakan tak jauh berbeda.
Namun, beberapa saat kemudian ada yang kurasakan
aneh. Udara mendadak dingin, padahal angin mati. Malam tiba di kulminasinya. Di
keremangan sana, di bukit yang semula hitam samar-samar, kusaksikan cahaya
menitik satu demi satu. Menyala kuning kemerahan di sana-sini. Jumlahnya kian
banyak, dan entah pada kedipan mataku yang ke berapa, tiba-tiba titik-titik itu
seperti membuncah karena seperti kepingan emas yang dituang dari langit.
Merambat perlahan meninggi dan meninggi, cahaya yang menjulang, membukit,
terang benderang, membawaku melayang.
Tak kurasakan lagi ketakutan. Tak kurasakan lagi
kegelisahan. Aku berada pada jantung kedamaian yang sungguh tak bisa
kugambarkan dengan kata-kata. Cahaya-cahaya itu, yang membintang jumlahnya,
seperti membersihkan seluruh jiwaku. Meneranginya dengan kelembutan. Cahaya itu
seperti menggemakan kidung, melaut bunyinya, bagi kebesaran Sang Maha Besar.
Cahaya itu seolah mengajakku menikmati keindahan Sang Maha Indah.
Air mataku mengucur deras menyaksikan keindahan
yang belum pernah terperangkap jiwaku seumur hidup. Keindahan itu hanya
kupercaya, melalui tuturan manusia-manusia berjiwa indah, dan dengan caranya
yang indah memasuki jiwaku.
Cahaya itu mengajakku mengelilingi kehidupan
yang sesungguhnya indah. Gadis-gadis cantik yang lahir dari permata.
Batang-batang delima cahaya yang menundukkan cabangnya manakala tanganmu
meraihnya, dan membiarkan rasa madu bilamana kau
mencecapnya, kutemukan di cahaya itu.
mencecapnya, kutemukan di cahaya itu.
Aku tergeragap bangun karena guncangan tangan
istriku.
”Mimpi apa, kok sampai nangis sambil
tertawa-tawa?”
Aku diam.
”Makanya, sudahlah, lupakan Bukit Cahaya itu.
Itu, kan, cuma dongeng,” ucapnya sebelum melanjutkan kembali tidurnya.
Aku hanya merasakan sisa cahaya paling cahaya
yang melumuri hidupku. Apakah akan kuceritakan juga mimpiku? Buat apa? Kepada
siapa? Siapakah yang saat ini butuh mimpi, yang menurut mereka tidak masuk akal
ini?
Tapi aku yakin benar, kalau itu batu, tentunya
batu-batu itu adalah emas. Jika itu kerikil, tentu kerikil-kerikil itu intan.
sumber: Lakonhidup
.jpg)
Tidak ada komentar: