Cerpen Zen R.S. (Jawa Pos, 6 April 2014)
OTONG Asmara
mati di hari pemilihan umum. Dia mati karena kecelakaan motor pada jam 10
malam, beberapa jam setelah semua TPS selesai melakukan penghitungan suara.
Saat itu dia sedang berkonvoi penuh kemenangan menuju kampungnya bersama tim
sukses. Otong mati karena motor yang dikendarainya ditabrak truk yang
dikendarai oleh sopir yang sedang mabuk.
Otong saat itu diliputi kegembiraan yang luar
biasa. Hasil perhitungan yang dilakukannya menunjukkan dia berhasil mendapat
jumlah suara yang melebihi angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP).
Hasil pantauan yang dilaporkan semua tim
suksesnya, suara sah di Dapil 4 mencapai 29.376 suara. Dengan jumah 4 kursi
yang diperebutkan, maka jika ada caleg yang meraih suara minimal 7.344 suara,
dia sudah pasti lolos sebagai anggota DRPD Kabupaten Moro Seneng. Otong luar
biasa senang setelah perhitungan yang dilakukannya menyebut dia mendapat 9.426
suara. Artinya, suara yang dia dapat 2.082 lebih banyak dari yang disyaratkan.
Jika pun ada meleset-melesetnya dalam penghitungan resmi nanti, Otong yakin
raihan suaranya tidak ada di bawah BPP yaitu 7.344.
Maka Otong mengajak semua anak buah dan tim
suksesnya untuk melakukan konvoi kemenangan sembari pulang ke rumah. Dia ingin
memberi surprise kepada Denok Sawitri, istrinya. Dalam perjalanan itulah Otong
mati tertabrak.
Jam 23.40, Denok tiba di kamar mayat RSUD Moro
Seneng. Diselingi tiga kali pingsan, satu jam lamanya Denok memeluk tubuh Otong
sembari menangis, menjerit, meratap, lalu menangis, menjerit, dan meratap lagi.
***
Beberapa saat sebelum jenazah Otong dikubur,
Kyai Husain bertanya kepada para pelayat: ”Almarhum orang baik?” Para pelayat
serempak menjawab: baik. Dua kali lagi Kyai Husain menanyakan hal yang sama dan
direspons dengan jawaban yang kurang lebih sama.
Denok tidak ikut mengantarkan suaminya ke
pemakaman. Tapi Denok tahu Kyai Husain akan menanyakan hal itu dan hampir bisa
dipastikan tidak akan ada pelayat dengan kata buruk-buruk. Denok tahu itu
kebiasaan di daerah Kabupaten Moro Seneng. Tapi Denok juga paham: jawaban yang
serbabaik itu tak ada urusannya dengan segala hutang piutang yang harus
dibayarkan.
Sampai hari ketiga, belum ada seorang pun yang
menagih apa pun. Pada hari keempat, seorang koordinator saksi datang menagih
sisa honor yang terlanjur dia talangi dengan uangnya. Denok mengeluarkan uang 1
juta dari total 3 juta yang diminta. Uang itu tabungan yang masih tersisa. Pada
hari kelima, ada dua orang yang menagih lagi. Pada hari ketujuh, ada empat
orang yang menagih.
Pada hari ke-10, surat pemberitahuan pembayaran
cicilan rumah dari bank datang. Surat itu memberitahukan Otong sudah tidak
membayar tiga bulan berturut-turut. Denok tahu, suaminya menggadaikan rumahnya
untuk biaya serangan fajar pada tengah malam menjelang pemilihan, juga
untuk tetek-bengek kampanye lainnya.
***
Otong Asmara adalah “juragan rongsok”, istilah
untuk pengepul barang-barnag rongsokan kelas kakap. Sudah 10 tahun Otong
menggeluti bisnis barang rongsokan ini. Satu tahun belajar, dua tahun mulai
melebarkan jaringan, pada tahun kelima Otong sudah menjadi orang kaya raya di
kampungnya.
Sebagai juragan, Otong bukan orang pelit. Dia
tak pernah absen membayar zakat, infak, shodaqoh, dan lain-lain. Di tahun
ketujuh sebagai juragan rongsok, Otong bahkan membeli sebuah mobil bekas yang
digunakan sebagai ambulans gratis. Di tahun kedelapan, Otong membeli sebuah
mobil bekas lagi juga untuk ambulans. Masyarakat di kampung tempat tinggal
Otong, juga di dua kecamatan yang masuk Dapil 4, bisa secara bebas menggunakan
ambulans milik Otong itu jika ada keluarganya yang sakit atau meninggal. Bensin
dan sopir sudah disediakan Otong.
Di tahun kesembilan, Otong mendirikan yayasan
pendidikan yang menaungi sebuah SMK Teknik yang dibayangkannya sebagai sekolah
untuk orang-orang miskin di Kecamatan Sumber Waras dan Kecamatan Sumber Rezeki.
Itu menjadi SMK pertama di dua kecamatan tersebut. Memang, dua kecamatan itu
berada di sudut terpencil Kabupaten Moro Seneng. Menurut laporan BPS Kabupaten
Moro Seneng, dua kecamatan itu adalah dua kecamatan termiskin.
Di tahun ke-10, Ketua DPC PPDK Kabupaten Moro
Seneng melamar Otong untuk menjadi caleg. Mulanya Otong menolak. Iming-iming
uang yang bisa didapat dengan menjadi anggota DPRD tak terlalu menarik
minatnya. Iming-iming proyek yang bisa dikerjakan Otong juga tak membuatnya
goyah.
Bujuk rayu yang akhirnya bisa membuat Otong
luluh justru kata-kata bahwa dengan menjadi anggota DPRD Otong bisa membangun
banyak sekolahan seperti yang sudah dilakukannya dengan SMK Teknik. Jika
suaranya melebihi syarat minimal, Otong dijanjikan akan menjadi ketua fraksi
dan minimal menjadi wakil komisi yang membawahi bidang pendidikan.
Otong yang pada dasarnya baik ini terbujuk. Dia
mengabaikan saran dan nasehat istrinya. Otong bersikukuh sebagai anak lulusan
SMP, dia tahu susahnya jika berpendidikan rendah. Otong ingin anak-anak di
wilayahnya tidak mengalami kesusahan yang pernah dirasakannya. Sungguh baik dan
mulia, bukan?
Yang tidak dipahami Denok adalah kenapa untuk
urusan politik macam itu Otong harus habis-habisan dan jor-joran? Otong pernah
mengata-ngatai Denok hanya karena istrinya itu mengatakan bahwa untuk menolong
banyak orang tak harus masuk politik, cukup jadi pengusaha yang giat, nanti
keuntungan bisa dipakai untuk membantu orang yang susah.
Otong memaki Denok dengan kata-kata kasar: ”Kau
itu lulusan SD, tahu apa dengan politik. Kalau tidak masuk politik, mau bantu
orang juga harus bayar. Kau pikir waktu aku bikin yayasan pendidikan itu tidak
bayar? Dari notaris sampai dinas pendidikan, semua harus disuap.“
Denok hanya bisa menangis mendengar makian itu.
Otong sudah berubah terlalu banyak. Denok menangis sambil mengelus-elus
perutnya yang sedang hamil 7 bulan.
Saat Otong mati, anak mereka berdua sudah berusia
2,5 bulan. Saat anaknya tepat berusia 3,5 bulan, Denok mendengar Otong sudah
resmi terpilih sebagai anggota DPRD. Di Dapil 4, caleg dari PPDK hanya Otong
yang lolos. Tapi karena Otong sudah almarhum, kursinya diserahkan kepda rekan
separtainya, yang suaranya tidak mencukupi. Orang yang beruntung itu adalah
ketua DPC PPDK, orang yang gigih membujuk Otong untuk mau menjadi caleg.
Namanya Pak Sugeng.
***
Denok mencoba melanjutkan bisnis rongsokan
suaminya. Tapi perkembangannya sangat lambat dan dari hari ke hari justru makin
merosot. Pada pemulung yang biasanya setor barang, satu per satu pergi. Mau
bagaimana lagi, modal sudah habis terkuras. Denok tak bisa lagi membayar tunai
para pemulung yang menyetorkan barang. Para pemulung yang sebelumnya sangat setia
pada Otong, karena alasan yang sangat bisa dipahami, akhirnya lari ke juragan
rongsok saingan Otong.
Beruntung tunggakan-tunggakan terkait kampanye
dan pemilu sudah beres, semata karena tampaknya orang-orang kasihan kepada
Denok. Hanya saja, tidak ada lagi uang untuk membayar cicilan rumah yang
digadaikan ke bank. Tidak ada lagi uang untuk modal memutar bisnis barang
rongsokan.
Denok tenggelam dalam kesulitan nyaris
sendirian. Kedua orang tuanya dan kerabat-kerabatnya juga tak bisa membantu,
karena Denok pada dasarnya datang dari keluarga yang miskin. Kedua mertuanya
juga tak bisa membantu, lebih tepatnya enggan membantu. Sisa uang yang pernah
diberikan Otong pada orang tuanya, mereka jaga baik-baik, mereka simpan
baik-baik, terutama untuk biaya naik haji.
Suatu hari, Haji Affandi, caleg PPDK tingkat
provinsi yang sering bekerja sama dengan Otong semasa kampanye, termasuk
berbagi baliho dan spanduk, datang menjenguk Denok. Dia menyampaikan
belasungkawa dan keprihatinan. Dia juga memberi Denok uang sebesar 3,5 juta.
Sebelum pulang, Haji Affandi bilang: ”Coba
datang ke Pak Sugeng, minta pengertian dia. Sudah biasa caleg yang jadi
menghargai caleg-caleg lainnya yang juga berhasil mengumpulkan suara tapi gagal
jadi caleg. Kalau Pak Otong masih hidup, toh Pak Sugeng tidak akan jadi anggota
DPRD.”
Tepat setelah Haji Affandi pergi, pegawai bank
datang memberi surat peringatan soal keterlambatan membayar cicilan. ”Kalau ibu
tidak bisa membayar, terpaksa rumah kami sita untuk dilelang.”
Malamnya, Denok melakukan salat tahajud. Di
akhir shalatnya, dia berdoa: Tuhan, berikanlah hamba suara-Mu, kepadaku.*)
***
Esoknya, seminggu sebelum pelantikan anggota
DPRD Kabupaten Moro Seneng, Denok pergi ke rumah Pak Sugeng, ketua DPC PPDK,
orang yang dulu gigih membujuk Otong agar mau menjadi caleg. Denok datang
sendirian. Anaknya dia titipkan pada ibunya yang sejak Otong meninggal selalu
mendampingi Denok.
Sambil terisak, dan itu isak yang tak
dibuat-buat, Denok menyampaikan persoalan keuangan yang dihadapinya. Denok juga
menyebutkan kalau kedatangannya atas saran Haji Affandi. ”Tolong, Pak. Pinjami
saya uang. Untuk membayar cicilan rumah dan modal usaha barang rongsokan. Tidak
banyak. Kalau ada, saya mau pinjam 35 juta saja. Nanti pelan-pelan saya cicil
bayarnya,” kata Denok.
Pak Sugeng tidak mengiyakan tapi tidak juga
menolak. Dia mengaku prihatin dan meminta maaf karena tidak sempat melayat saat
Otong dikebumikan. Yang bisa dijanjikan Pak Sugeng adalah dia akan memimpin
rapat partai dulu untuk menyikapi situasi yang dihadapi Denok.
”Mbak Denok tidak usah khawatir. Mbak Denok kan
rakyat, saya juga wakil rakyat. Jadi masalah Mbak Denok juga masalah saya.
Suara rakyat seperti Mbak Denok juga masalah saya. Suara rakyat seperti Mbak
Denok, kan suara Tuhan,” kata Pak Sugeng sambil tersenyum.
Denok sumringah. Baru semalam dia berdoa, ”Tuhan
berikanlah suara-Mu, kepadaku, ealah… Pak Sugeng malah sudah menganggapnya
sebagai suara Tuhan. Ini pertanda bagus. Tuhan mendengar doa saya, kata Denok
dalam hati.
Seminggu setelah itu, Denok kembali datang ke
rumah Pak Sugeng. Dilihatnya Pak Sugeng sudah mengenakan baju safari. Gagah
betul dia, pikir Denok. Kalau Otong masih hidup pasti akan segagah itu juga,
begitu Denok berkhayal.
Tapi Pak Sugeng meminta maaf karena belum ada
keputusan partai terkait situasi yang dihadapi Denok. ”Kita masih sibuk
konsolidasi terkait pekerjaan baru di DPRD,“ kata Pak Sugeng. ”Dua minggu lagi
datang, ya.“
Dua minggu kurang beberapa hari yang dijanjikan
Pak Sugeng, Denok kedatangan tamu. Ternyata itu suruhan Pak Sugeng. Dia
menitipkan sepucuk surat dan menyampaikan maaf karena Pak Sugeng tidak bisa
datang langsung. Setelah tamu itu pulang, Denok membaca surat dari Pak Sugeng.
Isinya: Pak Sugeng menyanggupi permintaan Denok.
Malamnya, untuk kedua kalinya, Denok salat tahajud
dan kembali berdoa: ”Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.“
***
Denok mendesah-desah menahan rasa nikmat yang
sudah berbulan-bulan tidak lagi ia rasakan. Mulanya ia ingat wajah Otong, tapi
lama-kelamaan, Denok tak ingat apa-apa lagi. Dia hanya menuruti naluri alami
yang sedang menggerayangi sekujur tubuhnya.
Pak Sugeng menyumpal mulut Denok, istri muda
yang baru dinikahinya sore tadi secara siri. Dia tak suka suara desahan Denok
yang makin lama makin keras dan nyaris menjerit-jerit.
Setelah hajat keduanya berhasil ditunaikan,
masih dalam keadaan telanjang, Denok berkata pada Pak Sugeng: ”Mas, kenapa
mulut saya disumpal? Katanya suara saya itu suara Tuhan?”
Pak Sugeng menjawab pertanyaan itu dengan
dengkuran yang bunyinya persis seperti suara kodok di musim hujan.
***
*)
Dikutip dari sajak ”Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan
Umum” karya Goenawan Mohammad. Judul cerpen ini bisa dianggap sebagai alusi
dari judul sajak tersebut.
tulisan ini saya copas dari lakonhidup
.jpg)
Tidak ada komentar: