Cerpen Julia Hartini* (Republika, 6 April 2014)
SORE itu, langit begitu murungnya, padahal matahari belum sepenuhnya
pulang ke arah barat. Ketika angin menyeruak bersama udara, tetesan air
berguguran mengaliri sungai, memenuhi semesta, membasahi rumah- rumah, gedung
bertingkat, dan jalan raya. Para pengendara pun bergegas mencari tempat
berteduh sambil nantinya menikmati jajanan hangat yang disediakan penjual bakso
atau batagor kuah yang ikut-ikutan meneduh sambil mengais rezeki.
Berbeda dengan pengendara lainnya, Aini dengan tenang mengendarai
motor merahnya sambil merasakan dingin air yang menembus pori-pori kulit.
Baginya, hujan ialah sahabat, anugerah Sang Khalik.
“Mengapa semua orang takut akan hujan? Bukankan hujan tak
bisa dipersalahkan atas segala longsor dan banjir yang terjadi?” gerutu
Aini.
“Lantas, adakah luka yang bisa disembuhkan dari segala serapah
yang dilontarkan orang-orang yang membenci gemercik air ini?” ucapnya dalam
hati.
Dengan kecepatan 30 km/jam, Aini sesekali melihat arah belakang
lewat kaca spion. Namun, saat jalanan menurun, “Braaaak!!!” tanpa diduga dari
arah belakang, sebuah mobil Kijang yang melaju kencang menabrak motor Aini.
“Bruk!!!” Aini terpental jatuh, kepalanya terbentur jalan raya.
Helmnya terlepas jatuh. Dua orang pengendara yang melintas dan melihat
kejadian itu mendekat, kemudian menolong Aini yang tak sadarkan
diri. Sementara, mobil lenyap, entah ke mana. Penolong itu tak
mengejar, yang ada di pikirannya hanya satu. Membawa korban ke rumah sakit.
Tak ada darah yang keluar dari tubuh Aini. Aini pun segera dibawa
ke rumah sakit terdekat. Meski di perjalanan Aini mengaduh pusing, dia masih
mampu menahan nyeri yang sembilu. Sesampainya di rumah sakit, Aini pun
muntah-muntah, dari muntah makanan hingga muntah darah. Saat itu,
perempuan yang menolong Aini panik luar biasa, sambil berdoa, ia pun berhasil
menghubungi ibu Aini yang dilacak dari telepon genggam milik Aini. Tak butuh
waktu lama, ibu pun datang.
Hasil diagnosis, otak kanan Aini meng alami pendarahan. Tanpa
mengulur waktu, dokter pun mengambil sikap, menggunduli kepala Aini dan
mengoperasinya.
Selesai operasi, Aini belum juga membuka mata, namun sesekali ia
mengigau. Igauan Aini membuat ibu cukup bahagia sebab Aini masih bisa merespons
kondisi tubuhnya sendiri.
“Aini haus.”
“Aini ingin minum kopi.”
Tiada yang bisa dilakukan seorang ibu yang melihat kondisi anak
semata wayangnya terbaring dengan ditemani selang kecil yang mengaliri darah
dari labu ke kepala Aini. Ya, saat itu Aini mengalami pendarahan otak yang
menyebabkan Aini menghabiskan tiga labu darah. Sebenarnya, ibu tak kuat melihat
ini semua, mesin-mesin besar menyala, infus yang masih setia di tangan kanan
Aini.
Segalanya telah ibu serahkan lewat guliran doa agar Aini kuat.
Agar Aini kelak bisa mengejar utang mimpi-mimpinya dengan penuh semangat.
Sehari berselang, Aini pun membuka matanya perlahan. Selama di
rumah sakit, Aini banyak dijenguk kawan-kawannya. Mereka kadang tertawa
untuk menghibur Aini dan lebih sering menangis melihat kondisi Aini. Tak banyak
yang dipikirkan Aini sebab segala keikhlasan telah ia semai dalam hatinya.
Hari ini pun Aini cukup bersemangat sebab perban di kepalanya
telah dilepas dan pemulihan bisa dilakukan di rumahnya. Sebelum pulang, ia
dipapah ibunya ke toilet. Tak sengaja, ia berhadapan dengan sebuah cermin, Aini
baru sadar bahwa rambutnya kini tak tertinggal sehelai pun. Aini bersedih,
kini ia mengerti mengapa kawan-kawan yang menjenguk seakan membendung pedih
dalam hati mereka.
“Aku botak” ucapnya dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.
“Bahkan, aku nyaris seperti alien,” ucapnya lirih.
***
Di perjalanan pulang, Aini menggunakan selendang untuk menutupi
kepalanya yang botak dan masih menyisakan segaris luka jahitan belum kering. Ia
hanya menunduk, memastikan semua orang tak menyangkanya sebagai “alien”.
Di rumah, ia hanya terdiam, sesekali mengaduh karena sakitnya
kadang tiba- tiba datang. Beberapa tetangga pun datang kembali menjenguk,
banyak yang membawa makanan, namun Aini tak selera mencicipi makanan itu meski
terlihat lezat. Setelah satu bulan di rumah, Aini tetap melakukan pemeriksaan
ke dokter, ia pun menggunakan kerudung tanpa ciput sebab lukanya tak boleh
ditekan oleh apa pun. Aini sendiri yang meminta selendang-selendang itu untuk
menutupi kepalanya.
“Mengapa dokter memotong rambutku?”
“Tak hanya itu, aku sedih sebab aku tak bisa berjalan sendiri.”
Aini menahan kekesalan dan kemarahannya sekaligus.
Di rumah sakit, dokter melihat luka itu dan dipastikan Aini sudah
bisa dikeramas tanpa takut sesuatu terjadi atas kepalanya. Dalam hatinya,
Aini tak tega melihat ibu mengurusnya seorang diri. Meski baru satu bulan
berselang, sebagai manusia biasa, Aini selalu merasa ini ujian terberat
baginya.
Aini menjadi lirikan banyak orang hingga seorang perempuan
mendekati Aini dan ibunya.
“Bu, Anaknya sakit apa?” ucap perempuan itu.
“Habis operasi sebulan yang lalu karena kecelakaan.”
“Saya kira habis operasi penyakit tumor di kepala,” perempuan itu
menimpali sambil mengusap punggung Aini.
Lagi-lagi Aini hanya menelan kesedihan tanpa mengadukannya pada
siapa pun, butuh waktu lama sampai Aini benar- benar kuat dalam menjalani ini.
Betapa pun kuatnya Aini bangkit, ketika ada orang yang melihatnya dengan
tatapan sedih, semangat itu pun sirna seketika.
“Bu, kalau ada yang menjengukku, lebih baik suruh pulang saja,”
ucap Aini sesampainya di rumah.
“Kenapa? Mereka ingin melihat keadaan dan mendoakanmu agar cepat
sembuh.”
“Aku sudah sembuh, Bu, jadi tak perlu dijenguk lagi.” Aini pun
langsung memasukkan kepalanya di dalam selimut menahan air mata takut jatuh
berkali-kali. Aini tak bisa menerima dengan tatapan banyak orang yang
mengasihani dirinya.
Saat ini, bukan sakit yang membuatnya meringis, namun kenyataan
yang harus ia terima ketika mental yang telah ia bangun harus roboh begitu saja
karena kesedihan “mereka” diungkapkan pada aorta tubuhnya.
Setiap hari Aini melihat ibu mengurus dirinya dengan sabar. Aini
pun kini bisa berjalan sendiri ke kampus. Kini, Aini menggunakan kerudung untuk
menutupi kepalanya. Setiap hari, Aini harus kuat menggunakan angkutan kota.
Sering kali sopir angkot ugal-ugalan hingga membuat dirinya terkoyak dan
menahan agar kepala nya tak mendapat goncangan hebat saat sopir mengerem, saat
sopir melewati jalanan yang bolong, ataupun saat lewat polisi tidur.
Aini mengejar ketertinggalan kuliahnya. Ia kini telah mantap
mengenakan kerudung. Bukan karena untuk menutupi kebotakan, melainkan
untuk-Nya.
“Mungkin ini jalan yang sudah diberikan- Nya untukku.”
“Allah telah mempunyai cara sendiri untuk hamba-hambanya. Bukankah
kecelakaan itu telah membuatku berhijab?”
“Selalu ada hikmah atas segala yang ter jadi pada diriku,” ucapnya
di depan cermin.
“Tiada yang lebih indah dari ini dan rambutku telah menemukan
jalannya.”
Musim pun berlalu, Aini dengan giat berburu kerudung. Ia pun
belajar memakai kerudung dari Youtube atau Instagram. Aini tahu, kini
memakai kerudung bukanlah hal yang kuno, ia dengan bebas mampu memadupadankan fashion yang ia sukai asal tetap syar’i.
Ada satu kerudung berwarna merah muda yang menarik hati Aini,
namun ia sadar giatnya ia mencari kerudung tak boleh menjadi euforia yang
berlebihan.
“Mungkin, bulan depan saja, Bu, belinya.”
“Ia, pakai saja yang ada, bulan depan bisa beli lagi,” ucap ibu
sambil membenarkan kerudung Aini.
***
Sebulan kemudian, ibu menepati janjinya membeli kerudung merah
muda polkadot tanpa sepengetahuan Aini. Kerudung yang ada tinggal satu lagi.
Ibu tak sabar memperlihatkan kerudung merah itu untuk Aini, baru saja membayar
kerudung, tiba- tiba telepon genggam ibu berdering, bukan telepon, melainkan
pesan singkat.
Dalam pesan singkatnya, dikatakan bahwa Aini masuk rumah sakit
karena jatuh dari tangga di kampusnya. Ibu yang langsung membaca SMS itu
berangkat dengan segera. Lagi-lagi, ibu kembali terkenang beberapa bulan
yang lalu di mana ia mengetahui kabar Aini kecelakaan. Saat ini, kejadian itu
pun terulang kembali. Sambil membawa kerudung merah muda untuk Aini, ibu tiada
henti berdoa dan membiarkan doa-doa itu disampaikan lewat udara.
Benturan keras itu membuat Aini terbaring tak berdaya.
“Ini kerudung yang Aini inginkan, warna kesukaanmu merah mudah
dengan polkadot yang menghiasi,” ucap ibu lirih.
Aini tak menjawab apa pun, badannya dingin dan kulitnya semakin
memutih. Tubuhnya tak lagi merespons mesin-mesin yang berada di
pinggirnya. Udara tak lagi bersahabat dengannya. Tak ada gerakan apa pun. Di
ujung hayat, Aini telah menemukan jalannya.
“Kelak, malaikat akan selalu berjaga, menemani Aini.” Ibu memeluk
Aini erat, menyisakan air mata di roman Aini.
Ruang
semesta, Maret 2014
*Julia Hartini lahir di Bandung, 19 Juli 1992. Mahasiswa Program
Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Tulisan- tulisannya mendarat di harian umum Inilah Koran, Pikiran Rakyat, Metro Riau,
dan Radar Banten. Karya-karya Julia bisa diakses di
blognya, akujulia.tumblr.com.
.jpg)
Tidak ada komentar: